Rabu, 12 Oktober 2011


Kalau sempat menonton film layar lebar Night at Museum 2: Battle of the Smithsonian, kita pasti berjumpa dengan tokoh bernama Amelia Earhart. Aktris Amy Adams memerankan dengan apik sosok perempuan jago terbang itu mendampingi Ben Stiller sebagai tokoh culun Larry Daley. Amelia cantik, pemberani, dan cerdas!

Cuma, banyak dari kita mungkin tak tahu persis bagaimana ajal menjemput perempuan kelahiran 24 Juli 1897, sementara dunia malah menorehkan nama cewek asal Atchison, Kansas, Amerika Serikat, itu sebagai yang pertama terbang solo melintasi Samudera Atlantik.

Ironis sekaligus tragis, putri pasangan Samuel "Edwin" Stanton Earhart (1868-1930) dan Amelia Otis Earhart (1869-1962) justru raib bak ditelan hamparan air laut Samudra Pasifik di dekat Pulau Howland dalam usaha untuk melakukan penerbangan keliling dunia. Catatan resmi kejadian itu adalah 2 Juli 1937. Istri George P Putnam itu pun dinyatakan tewas pada 5 Januari 1939 seusai pencarian panjang tanpa hasil.

Long Island, musim panas 1996. Buku Flight TWA 800 mengisahkan si reporter takut terbang, Jack O' Hara. Ketimbang naik burung besi, saat harus meliput pacuan kuda di Maryland, Mei 1995, O' Hara yang lama berkecimpung di rubrik olahraga ini memilih mengemudikan mobil, menempuh jarak 275 kilometer dari New York.

Masalahnya adalah, wartawan stasiun televisi ABC ini harus menuju Paris. Soalnya, Tour de France tengah digelar di ibu kota Perancis itu. Dari Negeri Abang Sam (AS), tanpa ada pilihan lain, O' Hara mesti bertarung dalam hati, membuang ketakutannya naik pesawat terbang.

Jadilah, ditemani istri dan anaknya, O' Hara akhirnya ada dalam daftar nama penumpang pesawat bernomor penerbangan TWA 800 rute New York- Paris, Rabu 17 Juli 1996. Inilah penerbangan terakhir bagi O'Hara.

Waktu menunjukkan pukul 08.45 malam. Pesawat Boeing 747-100 yang mengangkut 230 penumpang termasuk awaknya itu meledak di ketinggian 4.175 meter. Posisinya persis di atas Samudera Atlantik, 12 mil lepas pantai Long Island meninggalkan Bandar Udara Kennedy, New York.

Sedianya, pesawat naas itu bakal menempuh 7 jam 15 menit ke Bandar Udara Charles de Gaulle, Paris. Namun, nasib mengantar seluruh nyawa penumpang mencapai ajal, menyusul sukma Amelia Earhart, persis 59 tahun lebih 15 hari, selisih waktunya!

Tak butuh waktu lama untuk membiarkan berbagai spekulasi, termasuk analisis, penyebab kejadian bermunculan. Mulai dari terorisme sampai misil musuh Abang Sam. Namun, bahkan hingga kini, jawaban atas asal mula terjadinya peristiwa itu tinggallah teka-teki abadi.

Masih misteri

Kini, paling gres tentunya adalah hilangnya Airbus A330-200 Air France pada Senin (1/6) dalam penerbangan dari Rio de Janeiro ke Paris. Pesawat berpenumpang 228 termasuk awaknya itu hilang di atas Kepulauan Fernando de Noronha, wilayah Brasilia, di atas Samudra Atlantik.

Harian Kompas, Rabu (3/6) menulis, memang tidak ada panggilan darurat (mayday call) yang dikirimkan oleh pesawat bernomor penerbangan AF 447 ini kecuali pesan otomatis yang dikirimkan pada pukul 11.14 malam atau hampir empat jam setelah tinggal landas. Ketinggian pesawat saat itu 10.600 meter (35.000 kaki) dan kecepatan 840 km per jam (520 mph).

Pesan itu melaporkan adanya problem teknis bahwa sistem listriknya tidak bekerja. Sinyal itu dikirim bukan sebagai sinyal darurat, tetapi sebagai laporan otomatis bagi sistem pemeliharaan Air France. Tidak adanya sinyal darurat memunculkan dugaan bahwa pesawat mengalami problem mendadak.

Karuan, sama seperti kisah TWA, dua karib—spekulasi dan analisis—berseliweran di media massa, mulai dari perkiraan pesawat itu terbang terlalu pelan, hingga sambaran petir di lintasan jalur perjalanan pesawat yang diklaim paling aman itu. Keduanya pun menjadi materi omong-omongan paling hot di berbagai belahan dunia sejak di meja makan, boleh jadi, juga di ranjang.

Sementara pencarian oleh pihak berwenang belum tuntas, profesor Clint V Oster Jr dari Universitas Indiana di Bloomington, Indiana, sudah mewanti-wanti akan sukarnya mencari penyebab pasti peristiwa memilukan itu.

Soalnya, selalu ada faktor saling berkait yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Menurut hemat pakar bidang Kemasyarakatan dan Lingkungan itu, penyebab kecelakaan pesawat terbang mesti ditinjau mulai dari soal-soal permesinan yang makin canggih hingga rupa-rupa pertimbangan. Acap, hal-hal nonteknis macam politik pun ikut-ikutan terselip. "Pada intinya, tak ada penyebab tunggal," tegasnya.

Nyatanya, berbumbu alasan intrik sosial, teori sekaligus konspirasi, hilangnya Amelia Earhart dengan pesawat bermesin kembar Lockheed Electra adalah legenda. Belum lagi, sepotong kisah tanpa akhir pada kecelakaan kapal terbang Flight 19 di atas Bermuda pada 1945.

Lalu, berturut-turut, kecelakaan Boeing 747 bernomor penerbangan 295 milik South African Airways rute Johannesburg ke Taiwan pada 1987 di Samudra Hindia, belum ada penjelasan sebab-musababnya. Yang mencuat ke permukaan justru laporan detik-detik akhir soal pilot yang merokok di kabin pesawat malang itu.

Misteri pun masih setia menari-nari di benak manakala kecelakaan pesawat US Air 427 di Aliquippa, Pennsylvania, yang menewaskan 132 penumpangnya terjadi pada 1994.

Lalu, jawaban pun tak kunjung tiba tatkala Boeing 777 British Airways, pada Januari 2008, sedikit terjerembap di landasan pacu Bandar Udara Heathrow London yang melukai 19 dari 152 penumpangnya. Kok bisa ya pesawat kehilangan daya?

Dari awal, mestinya kita mafhum, jika pencarian pun akhirnya tak berujung, penerbangan AF 447 pun bakal menjadi cerita misteri penerbangan terbaru penambah panjang deretan tragedi tak terjawabkan kecelakaan pesawat terbang. Tapi, semoga ini menjadi yang terakhir.

sumber:http://internasional.kompas.com/read/2009/06/06/14224650/penerbangan.447.cerita.misteri.terbaru

2 komentar:

  1. Ternyata kecelakaan pesawat sangat mengerikan...............
    semoga hal seperti ini tak terjadi lg..............

    BalasHapus
  2. @IT-Soft Center
    betul bgt, ane jadi tkut naik pesawat

    BalasHapus